![]() |
| Tabur Bunga Di Salahsatu Makam Pahlawan Karoeng Kota Tasikmalaya |
Tasikmalaya — Pagi itu tidak sekadar dingin. Ia membawa sunyi yang berbeda. Sunyi yang tidak kosong, tapi penuh nama. Nama-nama yang pernah hidup, berjuang, lalu memilih diam selamanya demi negeri ini.
Pada Rabu, 1 April 2026, di TMP Karoeng Kota Tasikmalaya, langkah-langkah para anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIII Kodim 0612/Tasikmalaya berjalan lebih pelan dari biasanya. Bukan lelah, tapi hormat.
Dalam rangka HUT Persit ke-80, kegiatan ziarah ini dihadiri oleh Ketua Persit KCK Cabang XXIII Kodim 0612/Tasikmalaya, Ny. Rima M. Imvan Ibrahim, S.Sos., bersama jajaran pengurus, anggota Persit Kodim dan Koramil, serta rombongan Persit dari Brigif 13/Galuh.
Tak banyak kata yang terucap. Upacara penghormatan berlangsung dalam diam yang berbicara. Karangan bunga diletakkan, lalu satu per satu tangan menabur bunga seolah menitipkan pesan yang tak sempat disampaikan generasi hari ini kepada mereka yang telah lebih dulu pergi.
Di tempat ini, waktu terasa berhenti. Yang ada hanya kesadaran sederhana: kemerdekaan yang hari ini terasa biasa, ternyata lahir dari perjuangan yang luar biasa.
Ziarah ini bukan hanya tentang mengenang. Ini tentang mengingat dengan cara yang lebih dalam bahwa setiap kenyamanan yang dirasakan hari ini, punya jejak pengorbanan di belakangnya.
Persit, sebagai bagian dari keluarga besar TNI, tidak hanya berdiri di belakang. Mereka ikut menjaga nilai, merawat semangat, dan memastikan bahwa cerita tentang pengorbanan tidak pernah benar-benar selesai.
Momentum HUT Persit ke-80 pun menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu di medan perang. Kadang, ia hadir dalam bentuk kesetiaan, pengabdian, dan ketulusan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Dan pagi itu, di antara nisan-nisan yang berdiri rapi, satu hal terasa jelas:
para pahlawan mungkin telah gugur,
tapi semangatnya tidak pernah benar-benar pergi.

