Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Januari 2025

Mendengar Kisah Kue Keranjang di Jalan Selakaso: Tradisi, Tantangan, dan Harapan di Tengah Modernisasi

Hari Raya Imlek 2025
Ilustrasi Produksi Tradisional Kue Keranjang  Di  Tasikmalaya Dengan Dekorasi Khas Imlek Dan  Sentuhan Tradisional 

Kota Tasikmalaya kembali hidup menjelang Tahun Baru Imlek 2025. Aroma manis legit kue keranjang menyeruak dari sentra produksi di Jalan Selakaso, Kecamatan Tawang. Kawasan ini menjadi saksi perjalanan panjang tradisi kuliner Imlek yang terus bertahan di tengah derasnya perubahan zaman.

Di sebuah rumah produksi sederhana, Hom Sen, pria berusia 73 tahun yang menjadi simbol ketekunan dan pelestarian tradisi, menyambut kami dengan senyum hangat. Sejak 1950, keluarganya telah memproduksi kue keranjang yang kini tak hanya dinikmati warga lokal, tetapi juga menarik perhatian dari luar daerah. Namun, di balik lonjakan pesanan yang mengiringi Imlek, ada cerita perjuangan yang jarang terungkap.

“Ini bukan cuma soal kue. Ini soal tradisi, soal menjaga nilai-nilai keluarga,” kata Hom Sen. Ia memulai harinya lebih pagi dari biasanya. Puncak pesanan yang biasanya terjadi dua hingga empat hari sebelum Tahun Baru Imlek membuatnya tak punya waktu untuk berleha-leha.

Bahan Baku : Kunci Rasa dan Dilema Harga

Hom Sen berbagi rahasia kue keranjang buatannya: tepung ketan pilihan dan gula merah berkualitas. Namun, menjaga konsistensi rasa di tengah kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan besar.

“Kalau mau untung besar, mungkin gampang saja. Tapi bagi saya, ini soal mempertahankan warisan keluarga. Rasa kue keranjang kami harus tetap seperti dulu,” ujarnya tegas. Dengan harga jual Rp40.000 per kilogram, Hom Sen tetap memprioritaskan kualitas, meski margin keuntungan semakin menipis.

Teknologi : Sahabat Baru Sang Tradisi

Menyadari tuntutan zaman, Hom Sen mulai mengadopsi teknologi dalam proses produksinya. Mesin-mesin sederhana kini membantu mempercepat proses, tetapi Hom Sen memastikan tak ada yang mengorbankan keaslian rasa.

“Mesin membantu kami menghemat waktu, tapi tidak menggantikan sentuhan tradisional. Misalnya, proses penyimpanan kue tetap dilakukan selama 1-2 hari agar teksturnya sempurna,” jelasnya sambil memperlihatkan tumpukan kue keranjang yang tengah ‘beristirahat’ sebelum dikemas.

Lebih dari Sekadar Kue

Bagi masyarakat Tionghoa, kue keranjang bukan hanya makanan khas, melainkan juga simbol keberuntungan dan kesejahteraan. Hom Sen merasa tanggung jawab besar untuk memastikan tradisi ini tetap hidup.

“Kue keranjang itu seperti doa. Saat kami membuatnya, ada harapan di sana. Harapan agar keluarga tetap harmonis dan hidup lebih baik,” ucapnya penuh makna.

Di tengah geliat modernisasi, cerita Hom Sen mengajarkan kita satu hal: menjaga tradisi bukan sekadar mempertahankan rasa, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Jalan Selakaso pun tak hanya menjadi sentra produksi kue keranjang, melainkan juga simbol harmonisasi antara tradisi dan inovasi.

Bagi Anda yang ingin merasakan kelezatan dan makna di balik kue keranjang, mungkin inilah saatnya mengunjungi Jalan Selakaso, tempat di mana tradisi dan semangat zaman bertemu. Apakah Anda siap mencicipi sepotong tradisi yang penuh cerita?





Sumber : Ilustrasi Gambar AI, dan  https://www.rmoljabar.id/permintaan-kue-keranjang-melonjak-jelang-imlek-produsen-di-tasikmalaya-berjuang-lestarikan-tradisi

Sabtu, 28 Desember 2024

"TUTUG ONCOM: JEJAK RASA DARI WARISAN HIDUP YANG TERUS MELEGENDA DI TANAH PRIANGAN"

Tutug Oncom

Nasi Tutug Oncom Yang Melegenda 

Di setiap sudut jalan Tasikmalaya, aroma khas nasi tutug oncom (TO) menyeruak, menggoda setiap indera penciuman yang lewat. Kuliner sederhana ini bukan sekadar makanan, melainkan representasi nilai-nilai kehidupan masyarakat Sunda yang sarat akan kearifan lokal, kreativitas, dan warisan budaya.

Berawal dari dapur-dapur rumah sederhana di masa lampau, nasi TO menjadi simbol kegigihan masyarakat. Di tengah keterbatasan ekonomi saat itu, ibu-ibu rumah tangga menciptakan rasa dari apa yang ada. Oncom, bahan fermentasi sederhana, ditumbuk halus, lalu diolah dengan bumbu seperti kencur, cabai, dan bawang. Diaduk bersama nasi hangat, terciptalah perpaduan rasa gurih yang menjadi identitas rasa masyarakat Tasikmalaya.

Namun, nasi TO bukan hanya soal rasa. Di balik sepiring nasi tutug oncom tersimpan cerita tentang hematnya masyarakat Sunda zaman dulu. "Orang tua kami punya banyak peliharaan, tapi ayam dipotong hanya saat Lebaran. Ikan di kolam juga hanya untuk acara tertentu," ungkap Euis (60), seorang penjual nasi TO di Leuwidahu. Karena itu, bahan seadanya seperti oncom, opak, atau ranginang ditumbuk untuk menemani sepiring nasi agar tak hambar.

Kini, nasi TO telah menempuh perjalanan panjang, dari dapur rumah ke meja makan restoran. Sejak era 90-an, banyak warung nasi TO muncul di setiap sudut kota, membawa tradisi ini ke tingkat yang lebih tinggi. Nama-nama seperti Nasi TO Benhill, Nasi TO Asoy, dan Nasi TO Ending menjadi ikon kuliner yang memanjakan lidah wisatawan dan warga lokal.

Cara membuatnya tetap sederhana, namun kelezatannya tak pernah sederhana. Oncom yang ditumbuk dan disangrai, lalu dibumbui bawang, garam, dan kencur menciptakan cita rasa otentik yang tak tergantikan. Disajikan dengan lalapan segar, telur dadar, atau gorengan, nasi TO mampu mengenyangkan sekaligus menghadirkan nostalgia dalam setiap suapannya.

Nasi tutug oncom bukan hanya menu kuliner, tetapi sebuah cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan rasa dan sejarah yang menyatu, kuliner ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan budaya lokal mampu bertahan di tengah modernitas. Jadi, jika Anda berkunjung ke Tasikmalaya, sepiring nasi TO adalah keharusan untuk merasakan jejak rasa masa lalu yang terus hidup hingga hari ini.


Sumber : https://www.detik.com/jabar/kuliner/d-5946906/nasi-tutug-oncom-menu-jelata-yang-melegenda-di-tasikmalaya


DI ANTARA NAMA-NAMA YANG TAK LAGI BERSUARA, PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA CABANG XXIII KODIM 0612/TASIKMALAYA MENITIPKAN DOA DI TMP KAROENG

Tabur Bunga Di Salahsatu Makam Pahlawan Karoeng Kota Tasikmalaya  Tasikmalaya — Pagi itu tidak sekadar dingin. Ia membawa sunyi yang berbeda...