Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Inovasi dan Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inovasi dan Teknologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Januari 2025

SMPN 2 Kota Tasikmalaya: Kebijakan Anti-HP yang Menginspirasi Pendidikan Nasional

SMPN 2 Kota Tasikmalaya
Ilustrasi Suasana Di Sekolah, Siswa Berinteraksi Tanpa Gadget, Menonjolkan Harmoni Dan  Inovasi Pendidikan

Tasikmalaya, 19 Januari 2025 – Di tengah hiruk-pikuk teknologi yang menguasai kehidupan generasi muda, SMPN 2 Kota Tasikmalaya melangkah berani dengan menerapkan kebijakan pelarangan membawa handphone (HP) ke sekolah. Kebijakan ini bukan sekadar larangan, tetapi sebuah inovasi pendidikan yang mulai mendapat perhatian luas, bahkan hingga level nasional.

Kehadiran Fahmi Syairul Alim, MA, Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, di SMPN 2 hari ini menegaskan keseriusan pemerintah dalam mengkaji lebih dalam dampak kebijakan tersebut. Menurut Fahmi, langkah ini memiliki potensi menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah di Indonesia dalam menghadapi tantangan ketergantungan generasi muda terhadap gadget.

“Kebijakan ini kami nilai sebagai inovasi pendidikan yang sangat layak menjadi contoh. SMPN 2 tidak hanya fokus pada larangan, tetapi juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk swasta, untuk memastikan kebutuhan siswa tetap terpenuhi, seperti transportasi pulang sekolah,” ujar Fahmi.

Dampak Positif yang Terasa Nyata

Tidak hanya di atas kertas, kebijakan ini membuahkan hasil yang signifikan. Kepala SMPN 2, Hj Affi Endah Navilah MPd, menuturkan bahwa inisiatif tersebut lahir dari keprihatinan atas semakin berkurangnya sosialisasi di antara siswa.

“Kami sering melihat anak-anak hanya sibuk bermain game online atau scrolling media sosial saat jam istirahat. Hal ini membuat mereka lupa bagaimana caranya berinteraksi dengan teman-teman di dunia nyata,” ungkap Affi.

Sejak diberlakukannya kebijakan ini, perubahan positif mulai terlihat. Interaksi sosial antar siswa meningkat tajam. Suasana belajar juga menjadi lebih kondusif, dengan banyak siswa yang mulai kembali memanfaatkan waktu luangnya untuk hal-hal produktif seperti membaca buku di perpustakaan.

Ketua Komite Sekolah, Bode Riswandi, menyebutkan bahwa kebijakan ini juga mampu menekan konflik di antara siswa. “Tidak ada lagi drama viral akibat konten media sosial yang sering memicu masalah. Kini, energi mereka lebih banyak tercurahkan untuk belajar dan beraktivitas bersama,” ujarnya.

Kolaborasi dengan Swasta: Solusi Anti-Mainstream

Kebijakan ini tidak hanya mengandalkan larangan semata. SMPN 2 menggandeng aplikasi transportasi Grab sebagai mitra untuk mempermudah pengelolaan transportasi siswa, terutama setelah jam sekolah. Fasilitas ini menjadi jawaban atas kekhawatiran para orang tua yang sebelumnya mengandalkan HP untuk mengawasi anak-anak mereka.

“Langkah ini benar-benar memperlihatkan bagaimana kebijakan pendidikan dapat berjalan efektif jika didukung kolaborasi lintas sektor,” tambah Fahmi.

Masa Depan Pendidikan yang Lebih Manusiawi

Ketergantungan terhadap gadget adalah fenomena global yang harus diatasi secara serius. SMPN 2 Kota Tasikmalaya membuktikan bahwa langkah kecil di satu sekolah dapat membawa dampak besar. Melalui kebijakan ini, mereka berhasil menciptakan ruang pembelajaran yang lebih manusiawi dan interaksi sosial yang lebih sehat di tengah era digital.

Kisah SMPN 2 adalah pengingat bahwa pendidikan tidak hanya tentang menguasai teknologi, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai manusiawi yang mendasar. Sekolah ini telah menyalakan obor perubahan, membuktikan bahwa inovasi yang sederhana, namun strategis, dapat membawa dampak besar bagi masa depan generasi muda.

Apakah sekolah lain siap mengikuti jejak ini? Hanya waktu yang akan menjawab. Yang pasti, SMPN 2 telah membuktikan bahwa menjadi anti-mainstream bisa menjadi jalan menuju kesuksesan.





Sumber : Ilustrasi Gambar AI, https://radartasik.id/2025/01/19/pelarangan-hp-di-smpn-2-tasikmalaya-jadi-sorotan-nasional/

Jumat, 17 Januari 2025

Pergeseran Pola Belanja: Adaptasi Pelaku Usaha di Tengah Tantangan Digital

Pasar Tradisional
Ilustrasi Pergeseran Pola Belanja Masyarkat ke Platform Online 

Tasikmalaya – Dalam beberapa tahun terakhir, pola belanja masyarakat menunjukkan pergeseran besar dari toko fisik ke platform online. Fenomena ini membawa tantangan baru bagi para pelaku usaha, terutama mereka yang bergantung pada penjualan langsung.

Pasar Cikurubuk, salah satu pusat aktivitas ekonomi di Tasikmalaya, turut merasakan dampaknya. Yuli, seorang penjaga toko pakaian di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa sejak pandemi Covid-19, jumlah pembeli yang berkunjung ke tokonya mengalami penurunan drastis.

“Dulu, banyak orang datang langsung ke pasar. Tapi setelah pandemi, mereka lebih memilih belanja lewat aplikasi online,” ujar Yuli, sambil merapikan dagangannya.

Situasi ini memaksa pemilik usaha di pasar tradisional untuk berinovasi. Pemilik toko tempat Yuli bekerja, misalnya, mulai merambah dunia digital dengan menggunakan live streaming sebagai cara baru untuk memasarkan produk mereka. Strategi ini tidak hanya membantu mempertahankan pelanggan lama tetapi juga menjangkau pembeli dari luar daerah.

Sementara itu, Delis, karyawan sebuah toko pakaian thrift di Mal Mayasari Plaza, juga mengalami hal serupa. “Kami mulai aktif di berbagai platform digital, dan live streaming menjadi bagian penting untuk menarik pelanggan,” ungkap Delis.

Pengalaman Berbelanja Langsung, Keunggulan Toko Fisik

Meskipun belanja online menawarkan kemudahan dan harga yang kompetitif, banyak pelaku usaha seperti Yuli menekankan pentingnya pengalaman berbelanja langsung. Dengan mengunjungi toko fisik, konsumen dapat memastikan kualitas produk yang akan mereka beli.

“Kalau belanja langsung, pelanggan bisa memastikan bahan dan ukuran sesuai keinginan. Hal seperti ini sulit dilakukan kalau hanya melihat gambar di aplikasi,” tambah Yuli.

Namun, ia tidak menampik bahwa harga di platform digital seringkali lebih murah, meskipun kualitasnya kadang tidak sesuai harapan. Inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi toko-toko fisik.

Adaptasi adalah Kunci Bertahan

Menghadapi perubahan ini, pelaku usaha di Tasikmalaya menunjukkan bahwa adaptasi adalah solusi utama. Menggabungkan penjualan online dan offline menjadi cara untuk bertahan di tengah ketatnya persaingan. Live streaming menjadi salah satu strategi yang banyak diterapkan, memungkinkan interaksi langsung dengan pelanggan tanpa mereka harus datang ke toko.

Namun, dukungan dari konsumen juga sangat diperlukan. Berbelanja di toko fisik tidak hanya membantu mempertahankan keberlangsungan usaha lokal, tetapi juga memberikan pengalaman yang berbeda dan lebih personal bagi pelanggan.

“Harapannya, masyarakat mau kembali ramai berbelanja langsung di pasar atau toko fisik. Kami ingin suasana pasar kembali hidup seperti dulu, apalagi saat Ramadan yang biasanya membawa omzet besar,” tutup Yuli dengan penuh harap.

Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, para pelaku usaha di Tasikmalaya optimis bahwa mereka mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Dukungan dari masyarakat adalah kunci untuk menjaga ekonomi lokal tetap bergerak maju.




Sumber : Ilustrasi Gambar AI, dan https://radartasik.id/2025/01/17/ikuti-tren-belanja-online-pedagang-pasar-induk-cikurubuk-kota-tasikmalaya-jualan-secara-live-stream/

Selasa, 14 Januari 2025

Pesangreen: Pesantren Jadi Garda Terdepan Gerakan Lingkungan Hidup di Tasikmalaya

Pesantren Cipasung
Ilustrasi Suasana Pesantren Di Tasikmalaya Dengan Para Santri Yang Aktif Dalam Kegiatan  Lingkungan 

Pesantren Cipasung, Tasikmalaya – Dalam sebuah langkah revolusioner yang menyatukan nilai-nilai spiritual dan kepedulian terhadap lingkungan, gerakan Pesangreen resmi diluncurkan pada Sabtu (11/1/2025). Gerakan ini memperkenalkan konsep pengelolaan sampah dan pelestarian alam berbasis pesantren, menjadikan pesantren sebagai pionir dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Peluncuran Pesangreen dihadiri oleh lebih dari 500 perwakilan pesantren se-Jawa Barat, bersama tokoh-tokoh berpengaruh dalam dunia pendidikan Islam dan pelestarian lingkungan. Program ini mencerminkan visi besar untuk menjadikan pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga garda terdepan dalam gerakan pelestarian lingkungan.

Pesantren Sebagai Penggerak Perubahan

Direktur Pesangreen, Diwan Masnawi, dengan penuh semangat menekankan pentingnya pesantren dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. Ia menjelaskan bahwa Pesangreen menawarkan program unggulan seperti pengolahan sampah organik menjadi kompos dan magot, serta daur ulang plastik menjadi biji plastik.

“Pesangreen lebih dari sekadar organisasi lingkungan. Ini adalah gerakan dakwah yang mengajarkan pentingnya menjaga bumi sebagai amanah dari Allah SWT,” ujar Diwan.

Sementara itu, Muhammad Najmi, yang akrab disapa Kakang, sebagai pendiri Pesangreen sekaligus Ketua AISNU Jawa Barat, menekankan pentingnya peran pesantren sebagai teladan. “Pesantren harus menjadi tempat yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menjaga alam. Inilah dakwah Islam yang sesungguhnya: menyatu dengan alam dan melindunginya,” tegas Kakang.

Aksi Nyata Dimulai dari Sungai Saruni

Sebagai langkah awal, Pesangreen memulai aksi pembersihan Sungai Saruni, yang melibatkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak hanya membersihkan, gerakan ini juga mengolah sampah menjadi kompos dan bahan daur ulang, membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari hal kecil yang berdampak besar.

Lebih dari sekadar aksi kebersihan, kegiatan ini menjadi wadah edukasi bagi para santri untuk memahami siklus sampah dan pentingnya pelestarian lingkungan. Dalam suasana penuh kebersamaan, para peserta membuktikan bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari ibadah.

Gerakan Keberlanjutan yang Inklusif

Pesangreen hadir sebagai bentuk inovasi dalam dakwah Islam, menjadikan lingkungan sebagai bagian integral dari kehidupan pesantren. Gerakan ini diharapkan mampu menciptakan dampak yang meluas, baik bagi pesantren maupun masyarakat sekitarnya.

Acara peluncuran diakhiri dengan doa bersama, memohon keberkahan dan keberlanjutan gerakan ini. Dengan komitmen penuh, Pesangreen kini berdiri sebagai gerakan lingkungan berbasis pesantren yang tidak hanya membawa solusi, tetapi juga menginspirasi pesantren lain di Indonesia untuk ikut ambil bagian dalam menjaga bumi.

Menjaga Alam, Menghidupkan Nilai Islam

Melalui Pesangreen, pesantren tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar agama, tetapi juga menjadi teladan nyata bagi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Sebuah langkah besar dari Tasikmalaya untuk Indonesia yang lebih bersih dan lestari.






Sumber : Ilustrasi Gambar AI, Pesantren Cipasung, dan https://jabar.nu.or.id/kabupaten-tasikmalaya/pesangreen-resmi-diluncurkan-gerakan-lingkungan-berbasis-pesantren-untuk-masa-depan-yang-lebih-bersih-dan-berkelanjutan-HIg0t

Sabtu, 11 Januari 2025

SMA Al Muttaqin Kirim Delegasi ke KSEF 2025: Anak Muda Tasikmalaya Unjuk Gigi di Panggung Dunia

SMA Al Muttaqin

Generasi Emas Tasikmalaya Siap Bersinar di Panggung Dunia Bersama
SMA Al Muttaqin.

Langit Tasikmalaya bersinar terang saat SMA Al Muttaqin mengukir sejarah dengan melepas lima siswa terbaiknya untuk mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi Korea Science Engineering Fair (KSEF). Bertempat di Laboratorium Biologi sekolah, acara pelepasan pada Kamis, 9 Januari 2025, menjadi momen berharga bagi para siswa, guru, dan seluruh keluarga besar sekolah.

Ketua Umum Yayasan Al Muttaqin, Ir. H. Ade Ruhyana, dan Ketua LPI Al Muttaqin, Dr. H. D. Suryatman, M.Si., dengan bangga melepas delegasi yang siap bertanding di Cheonan, Korea Selatan, pada 11–14 Januari 2025.

Mereka tak hanya sekadar berkompetisi. Lima siswa ini membawa tiga karya ilmiah unggulan yang mampu menginspirasi dunia.

Karya-Karya Anak Bangsa yang Siap Mendunia

1. Inovasi Anti Pemalsuan Dokumen

Sahla Alika Malik hadir dengan terobosannya, sebuah tinta berbasis carbon quantum dots berukuran nano, yang didoping atom Boron (B) dan Sulfur (S). Tinta ini bukan sekadar tinta biasa, tapi solusi untuk melawan pemalsuan dokumen seperti paspor dan visa. Dengan fluoresensi dua warna yang unik, tinta ini menjadi kunci keaslian dokumen hanya dengan sinar tertentu.

2. Panduan Karier Berbasis Teori Holland

Duo Siti Azizah dan Previdya Amanda membawa penelitian tentang pemetaan minat dan bakat siswa menggunakan teori Holland, yang relevan dengan implementasi Kurikulum Merdeka. Proyek ini tak hanya menjadi panduan karier siswa tetapi juga jawaban atas kebutuhan pendidikan yang lebih personal.

3. Obat Antikanker dari Jamur Trichoderma

Sarah Kamilya dan Nizar Nurjaman menggali potensi jamur Trichoderma Sp. sebagai kandidat obat alami kanker payudara. Lewat uji in vitro dan in silico, mereka memberikan harapan baru bagi dunia kesehatan dengan bahan alami yang menjanjikan.

Langkah Besar Menuju Panggung Internasional

Proses panjang telah dilalui oleh para delegasi ini. Dimulai dari seleksi ketat dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) hingga terpilih untuk bersaing di ajang internasional. Kepala SMA Al Muttaqin, In In Kadarsolihin, S.S., M.Pd., menyampaikan bahwa ini adalah kali pertama SMA Al Muttaqin mengikuti KSEF, namun menjadi bukti nyata visi sekolah sebagai pusat budaya riset.

“Kami ingin membangun generasi muda yang paham bahwa riset adalah jawaban atas tantangan global. Kami bangga bisa menjadi bagian dari ajang yang mengumpulkan anak-anak muda berbakat dari berbagai negara untuk bersama-sama menjawab persoalan dunia melalui sains,” tutur In In.

Lebih dari Sekadar Kompetisi

Bagi Sahla, kompetisi ini adalah langkah kecil menuju impian besar. “Ide saya lahir dari kegemaran membaca jurnal ilmiah. Tahun lalu saya meneliti nanopartikel, dan sekarang saya kembangkan menjadi solusi yang lebih nyata dan berdampak luas,” katanya penuh semangat.

Sahla yakin bahwa inovasi adalah kunci masa depan. Dengan tinta anti-pemalsuan ciptaannya, ia berharap kontribusinya dapat membantu masyarakat luas, bahkan dunia.

Harapan untuk Generasi Muda Indonesia

In In Kadarsolihin menargetkan medali emas dari ajang ini, tetapi lebih dari itu, ia berharap pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi para siswa untuk menyadari pentingnya riset. “Riset bukan hanya untuk menang kompetisi, tetapi juga untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi dunia saat ini,” tambahnya.

Dengan dukungan penuh dari institusi seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya, dan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, langkah SMA Al Muttaqin semakin kokoh untuk mengharumkan nama Indonesia.

Maju terus, generasi muda Tasikmalaya! Dunia menunggu karya-karya luar biasa kalian.




Sumber : https://www.instagram.com/p/DEo7-Lhz2vO/?igsh=cmNqNXN2MjRjb3lr, https://radartasik.id/2025/01/10/lima-siswa-sma-al-muttaqin-berangkat-ke-korea-untuk-kompetisi-sains-salah-satunya-bisa-buat-nano-partikel/3/, dan https://www.instagram.com/smafavoritalmuttaqin?igsh=Y3N2b2ZqYmpuNWxq

Minggu, 05 Januari 2025

Krisis Harga Cabai di Tasikmalaya: Tantangan, Penyebab, dan Solusi Inovatif Pemkot

Krisis Harga Cabai di Tasikmalaya
Ilustrasi : Program Setaman Cinta 

Tasikmalaya kembali dihadapkan pada persoalan kenaikan harga cabai yang signifikan usai momentum Natal dan Tahun Baru. Di Pasar Cikurubuk, harga cabai rawit domba kini melambung hingga Rp80.000 per kilogram, jauh dari harga normal Rp30.000–Rp40.000 per kilogram. Kondisi ini turut menyeret jenis cabai lainnya seperti cabai merah besar yang dijual Rp75.000 per kilogram dan cabai merah keriting di angka Rp65.000 per kilogram.

Bagi pedagang dan konsumen, lonjakan harga ini tak ubahnya bencana kecil. Yani, seorang pedagang di Pasar Cikurubuk, mengeluhkan kenaikan harga yang memengaruhi minat beli masyarakat. “Harga sekarang bukan naik lagi, tapi pindah harga,” ujarnya, dengan nada bercampur humor dan keprihatinan. Ia menduga faktor cuaca ekstrem dan serangan hama telah memengaruhi produktivitas petani, sehingga pasokan ke pasar menurun drastis.

Kepala Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, Apep Yosa, menjelaskan bahwa ketergantungan pada pasokan dari luar daerah seperti Kabupaten Garut dan Ciamis memperparah situasi. Minimnya produktivitas di daerah penghasil cabai ditambah tingginya permintaan pada momentum Nataru menjadi pemicu utama.

Namun, bukan Tasikmalaya namanya jika hanya berdiam diri tanpa inovasi. Dalam upaya mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar, Pemkot Tasikmalaya meluncurkan program Setaman Cinta (Semangat Tanam di Lahan Pekarangan Cinta Alam). Program ini mengedukasi warga untuk memanfaatkan lahan pekarangan mereka guna menanam tanaman pangan seperti cabai.

"Melalui Setaman Cinta, masyarakat bisa memenuhi kebutuhan cabai sendiri tanpa terlalu bergantung pada pasar," kata Apep. Dengan pendekatan ini, warga diharapkan tidak hanya berperan sebagai konsumen, tetapi juga produsen kecil yang mendukung ketahanan pangan lokal.

Bagi Anda yang tertarik, menanam cabai tidak membutuhkan lahan luas. Pot kecil di halaman rumah, atau bahkan botol bekas, bisa menjadi media tanam sederhana. Dengan perawatan rutin, hasilnya tidak hanya mengurangi beban pengeluaran, tetapi juga menjadi langkah kecil menuju kemandirian pangan.

Lonjakan harga cabai juga memberikan pelajaran penting: peran petani lokal tidak bisa diabaikan. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bersinergi untuk menciptakan ekosistem pangan yang mandiri. Sebuah langkah sederhana seperti menanam cabai di rumah Anda bisa menjadi solusi nyata untuk mencegah “pedasnya” harga cabai di masa depan.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Sudahkah pekarangan rumah Anda diisi dengan tanaman bermanfaat? Mari bersama wujudkan kemandirian pangan untuk masa depan Tasikmalaya yang lebih baik. 

#SetamanCinta #MandiriPangan #TasikmalayaBangkit


Sumber : Ilustrasi AI, Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya dan https://kabarpriangan.pikiran-rakyat.com/kabar-priangan/pr-1488940146/harga-cabai-rawit-domba-di-kota-tasikmalaya-tembus-rp80-ribu-per-kg?page=all

Senin, 30 Desember 2024

TASIKMALAYA MENUJU ERA BARU: ZONA INTEGRITAS DILUNCURKAN DI BALE KOTA


Zona Integritas Diluncurkan

Sumber : https://images.app.goo.gl/8eAcXTSwrZ3x5Aca6

Senin pagi, 30 Desember 2024, suasana Halaman Bale Kota Tasikmalaya terasa berbeda. Di bawah terik matahari yang mulai memanjat, Penjabat Wali Kota Tasikmalaya, Drs. Asep Sukmana, M.Si., mengambil langkah besar yang menandai babak baru dalam pemerintahan daerah ini: pencanangan pembangunan zona integritas.

Bukan sekadar seremoni, acara ini menyoroti komitmen Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk membersihkan diri dari jebakan lama—korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dalam sambutannya, Asep Sukmana berbicara dengan nada tegas namun penuh harapan.

"Zona integritas bukan sekadar simbol, tapi aksi nyata untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan melayani. ASN di Kota Tasikmalaya harus menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas demi memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat," tegasnya.

Pernyataan ini tidak hanya menggarisbawahi tugas moral para aparatur sipil negara, tetapi juga memberi pesan bahwa birokrasi yang baik adalah fondasi kepercayaan masyarakat. Asep bahkan membagikan kisah diskusi intensnya bersama para pejabat eselon 2 malam sebelumnya. Evaluasi kinerja, eksplorasi masalah, hingga perencanaan ke depan menjadi fokus obrolan serius tersebut.

"Tidak hanya soal menghindari korupsi, reformasi birokrasi ini juga tentang bagaimana kita meningkatkan kualitas pelayanan publik," lanjutnya.

Momentum untuk Berubah

Acara ini dihadiri para kepala dinas, pejabat struktural, hingga ASN dari berbagai bidang. Namun lebih dari itu, pencanangan zona integritas ini adalah seruan perubahan. Dengan atmosfer Bale Kota yang kental dengan semangat reformasi, langkah ini diharapkan menjadi momentum untuk menciptakan pelayanan publik yang benar-benar profesional dan bersih.

Langkah ini bukan hanya upaya lokal, tetapi bagian dari gerakan besar reformasi birokrasi yang digaungkan pemerintah pusat. Di tengah derasnya kritik terhadap birokrasi di berbagai daerah, Tasikmalaya mencoba menampilkan wajah baru.

Antara Harapan dan Tanggung Jawab

Pesan dari pagi itu jelas: integritas adalah pondasi pemerintahan. Namun, komitmen ini harus dibuktikan, bukan hanya di atas kertas. Asep mengingatkan, perubahan sejati dimulai dari setiap individu ASN yang memikul tanggung jawab moral sebagai abdi negara.

Apakah ini hanya sekadar formalitas atau benar-benar awal perubahan besar? Waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal yang pasti, Kota Tasikmalaya mencoba melangkah ke depan dengan optimisme baru.

Bale Kota di Senin pagi ini bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga pengingat bahwa sebuah kota, seperti manusia, bisa memilih untuk berubah.


Sumber : https://radartasik.id/2024/12/30/pj-wali-kota-tasikmalaya-asep-sukmana-serukan-pembangunan-zona-berintegritas-agar-bebas-korupsi/#google_vignette

DI ANTARA NAMA-NAMA YANG TAK LAGI BERSUARA, PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA CABANG XXIII KODIM 0612/TASIKMALAYA MENITIPKAN DOA DI TMP KAROENG

Tabur Bunga Di Salahsatu Makam Pahlawan Karoeng Kota Tasikmalaya  Tasikmalaya — Pagi itu tidak sekadar dingin. Ia membawa sunyi yang berbeda...