Powered By Blogger

Minggu, 29 Juni 2025

TPT Longsor di Taraju, Satu Anak Meninggal Dunia: Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem


Longsor di Taraju
Lokasi Penyelamatan Korban 

Taraju, Tasikmalaya – Sabtu, 28 Juni 2025

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Taraju sejak pagi mengakibatkan Tanggul Penahan Tanah (TPT) di kawasan pemukiman warga Kampung Mekarjaya RT 043/001, Desa Cikubang, mengalami longsor pada sore hari sekitar pukul 16.30 WIB. Peristiwa tersebut berdampak pada dua rumah warga dan menutup jalur lingkungan sekitar.

Lebih tragis lagi, dalam insiden tersebut dilaporkan satu anak meninggal dunia akibat tertimpa material longsoran. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa musim hujan di wilayah perbukitan seperti Taraju menyimpan risiko tinggi, terutama bagi permukiman yang berada di area lereng dan tepi tebing.


Respons Cepat Aparat dan Masyarakat

Informasi awal diterima oleh petugas sekitar pukul 19.30 WIB melalui laporan dari anggota Linmas dan Kepala Desa Cikubang. Tanggap darurat langsung dilakukan oleh unsur desa, Babinsa, anggota Polsek Taraju, serta masyarakat setempat yang bergotong royong membantu mengevakuasi area terdampak dan mensterilkan lokasi.

Babinsa Desa Cikubang segera melakukan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Tasikmalaya, pemerintah desa, dan relawan setempat. Upaya penyelamatan serta pendataan dilakukan dengan cepat dan penuh kehati-hatian di tengah kondisi tanah yang masih labil.


Jalan Tertutup, Warga Dihimbau Waspada

Longsoran yang terjadi menyebabkan akses jalan lingkungan tertutup sepenuhnya oleh material tanah dan puing TPT. Hingga saat ini, belum ada laporan pengungsian massal, namun pihak aparat dan relawan tetap berjaga untuk mengantisipasi potensi longsor susulan.

Masyarakat sekitar dihimbau untuk tidak panik namun tetap waspada, terutama saat hujan kembali turun. Kondisi geografis dengan kontur tanah rawan longsor membuat area ini perlu perhatian ekstra, baik dari segi pemetaan risiko maupun mitigasi jangka panjang.


Langkah Ke Depan: Kesadaran Bencana Adalah Tanggung Jawab Bersama

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana bukan hanya tugas satu pihak, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif antara warga, pemerintah, dan seluruh unsur pengaman wilayah. Ke depan, perlindungan terhadap infrastruktur pemukiman yang berada di titik rawan harus ditingkatkan, termasuk edukasi kebencanaan di tingkat keluarga dan komunitas.

Musibah tidak pernah diundang, namun sikap waspada dan terorganisir bisa menjadi benteng penyelamat. Kesedihan atas kehilangan nyawa seorang anak dalam peristiwa ini menjadi luka bersama, dan sekaligus pengingat agar setiap elemen masyarakat lebih sigap menjaga keselamatan lingkungan sekitarnya.


Sabtu, 28 Juni 2025

Semangat Tarung Drajat Menggema di Dadaha: 140 Peserta Tunjukkan Sportivitas Sejati dalam Kejursat Se-Tasikmalaya 2025

Tarung Drajat
Antusiasme Peserta Dari 17 Satuan Latihan
Se-Tasikmalaya 


Tasikmalaya – Sabtu, 28 Juni 2025

GOR Susi Susanti, yang berdiri kokoh di tengah Komplek Olahraga Dadaha Kota Tasikmalaya, kembali menjadi panggung semangat juang dan persaudaraan. Kali ini, lewat Kejuaraan Antar Satlat (Kejursat) Tarung Drajat Se-Tasikmalaya Tahun 2025, yang resmi dibuka dengan antusiasme tinggi dari 140 peserta dari 17 satuan latihan (Satlat) se-Tasikmalaya.

Lebih dari sekadar turnamen, Kejursat ini menjadi ruang tumbuh generasi muda yang tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga tangguh dalam karakter. Tarung Drajat, sebagai olahraga asli Indonesia, kembali membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan hanya soal otot, tapi juga soal integritas, solidaritas, dan nilai kemanusiaan.


Bukan Sekadar Pertarungan, Tapi Perayaan Disiplin dan Persaudaraan

Acara pembukaan berlangsung sejak pagi dengan suasana tertib dan penuh semangat. Peserta dari berbagai daerah Tasikmalaya hadir mengenakan seragam kebanggaan masing-masing, membawa energi yang sama: bertarung dengan sikap ksatria dan sportif.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah dan tokoh olahraga daerah. Mewakili banyak pihak dari wilayah Kota maupun Kabupaten Tasikmalaya, kehadiran mereka memperkuat komitmen bersama untuk terus mendorong pembinaan olahraga bela diri yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter.


Tarung Drajat, Olahraga yang Menyatukan Banyak Nilai

Lebih dari seni bela diri, Tarung Drajat adalah sistem pendidikan fisik dan mental. Di dalamnya, terkandung filosofi untuk menghormati lawan, menghargai proses, dan membentuk ketangguhan yang membumi. Kejursat ini menjadi bukti bahwa olahraga mampu menjadi jembatan lintas usia, wilayah, bahkan profesi—semua bersatu lewat gerakan, semangat, dan tujuan yang sama.

Sebagai ajang pembinaan, Kejursat bukan hanya melahirkan atlet, tetapi juga calon pemimpin masa depan yang memiliki mental petarung dan sikap pantang menyerah.


Dari Tasikmalaya untuk Indonesia: Membangun Karakter Lewat Bela Diri

Kegiatan Kejursat Tarung Drajat 2025 diharapkan tidak berhenti sebagai ajang kompetisi, melainkan menjadi fondasi kuat dalam pembangunan karakter generasi muda di Tasikmalaya. Terlebih, semangat yang dibangun dalam arena juga mencerminkan nilai-nilai lokal yang menjunjung tinggi kebersamaan dan etika.

Di tengah tantangan zaman yang penuh distraksi, hadirnya Kejursat ini adalah pesan kuat: bahwa olahraga bela diri tetap relevan, membumi, dan mampu menjadi sarana pembentukan jati diri yang kokoh.

Dari arena Tarung Drajat di Dadaha, semangat petarung sejati kembali digemakan. Bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk membangun diri, komunitas, dan masa depan yang lebih kuat.


Tebing Longsor di Tapal Kuda Salawu, Akses Jalan Nasional Tertutup Sementara

 

Longsor di Tapal Kuda Salawu
Kolaborasi Pemulihan Di Tempat Longsor 

Tasikmalaya – Sabtu, 28 Juni 2025

Hujan deras yang mengguyur wilayah Tasikmalaya sejak dini hari menyebabkan tebing longsor di jalur utama penghubung Garut–Tasikmalaya, tepatnya di Kampung Tapal Kuda, Desa Kutawaringin, Kecamatan Salawu. Material longsoran menutup seluruh badan jalan, mengakibatkan akses tidak bisa dilalui kendaraan dari kedua arah.

Kejadian berlangsung sekitar pukul 06.10 WIB, sesaat setelah laporan awal diterima oleh aparat pada pukul 06.20 WIB melalui telepon dari seorang pengendara motor yang melintas di lokasi. Babinsa setempat segera merespons laporan tersebut dengan mendatangi lokasi dan melakukan koordinasi cepat bersama relawan serta aparat desa.


Respons Cepat di Tengah Ancaman Alam

Bencana ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka. Namun, longsoran tanah dan bambu cukup tebal dan luas hingga menutupi seluruh permukaan jalan. Meski kondisi saat kejadian relatif sepi, potensi bahayanya tinggi, mengingat jalur tersebut adalah akses vital bagi masyarakat dan kendaraan antarkota.

Babinsa bersama unsur masyarakat, relawan, dan perwakilan Dinas Pekerjaan Umum telah mulai melakukan upaya pembersihan material longsor. Dalam tahap awal, dilakukan evakuasi manual untuk membuka sebagian jalur agar kendaraan darurat bisa melintas.


Kondisi Terkini dan Imbauan

Hingga laporan ini disusun, jalan belum dapat dilalui baik dari arah Singaparna menuju Garut maupun sebaliknya. Pihak terkait mengimbau masyarakat untuk menghindari jalur tersebut sementara waktu dan mencari alternatif rute lain hingga proses pembersihan selesai dan kondisi dinyatakan aman.

Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, terutama di wilayah dengan kontur pegunungan dan tebing curam seperti Kecamatan Salawu. Hujan dengan intensitas tinggi menjadi salah satu pemicu utama kejadian longsor, khususnya di area yang belum diperkuat secara struktural.


Langkah Kolaboratif untuk Pemulihan

Dalam situasi darurat ini, kolaborasi lintas unsur sangat diandalkan. Mulai dari masyarakat lokal, aparat kewilayahan, hingga dinas teknis bergerak bersama tanpa menunggu komando pusat. Respon awal cepat menjadi faktor kunci dalam mencegah risiko lebih besar dan mempercepat pemulihan akses jalan.

Ke depan, mitigasi bencana dan penguatan struktur tanah di jalur rawan longsor perlu ditingkatkan agar kejadian serupa dapat dihindari. Musim hujan tak hanya membawa air, tapi juga peringatan: bahwa kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama.

Kamis, 26 Juni 2025

Kodim 0612/Tasikmalaya Raih Gelar Juara Turnamen Mini Soccer Bhayangkara ke-79: Lebih dari Sekadar Kemenangan

Kodim 0612/Tasikmalaya
Perayaan Kemenangan Bersama Kapolres Kabupaten  Tasikmalaya 


Tasikmalaya, 26 Juni 2025 Di bawah langit cerah dan semangat yang membara, lapangan mini soccer Polres Tasikmalaya menjadi saksi lahirnya juara baru dalam perhelatan Turnamen Mini Soccer memperingati Hari Bhayangkara ke-79. Kodim 0612/Tasikmalaya menutup turnamen dengan gemilang, merebut gelar juara usai mengalahkan tim Pemkab Tasikmalaya dengan skor mencolok 3-0.

Di balik kemenangan tersebut, tersimpan semangat kolektif, kerja sama tanpa pamrih, dan dedikasi luar biasa dari tim Kodim FC yang tampil solid dari awal hingga akhir turnamen. Di bawah arahan Coach Eko, tim menunjukkan performa agresif dan koordinasi matang, yang menjadi kunci utama keberhasilan mereka menaklukkan lawan-lawan tangguh di sepanjang kompetisi.

Final berlangsung sengit namun fair play, menjadi hiburan menarik yang disaksikan langsung oleh para pendukung, keluarga besar TNI-Polri, dan masyarakat yang memadati tribun lapangan. Setiap gol yang tercipta bukan hanya buah dari strategi dan kekuatan fisik, tetapi juga dari semangat kebersamaan yang tak tergoyahkan.

Momen puncak turnamen ditandai dengan penyerahan trofi juara kepada tim Kodim 0612/Tasikmalaya oleh Kapolres Tasikmalaya. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas semangat sportivitas semua peserta serta menegaskan pentingnya sinergitas antara TNI, Polri, dan Pemerintah Daerah dalam membangun kebersamaan dan stabilitas di tengah masyarakat.

Turnamen ini menjadi lebih dari sekadar ajang perebutan piala ia menjadi simbol kuat bahwa kolaborasi antarlembaga bisa tumbuh dalam atmosfer persahabatan, saling menghormati, dan semangat membangun Tasikmalaya yang lebih harmonis.

Selamat kepada Kodim 0612/Tasikmalaya atas kemenangan yang inspiratif. Semoga semangat ini terus menyala dan menjalar ke berbagai lini kehidupan masyarakat.


Pestok Tasikmalaya 2025: Tradisi Patok Domba dan Kambing Menjadi Simbol Ketangguhan Budaya Rakyat

Tradisi Patok Domba dan Kambing
Domba dan Kambing Tampil Sebagai
“Atlet Budaya”


Tasikmalaya, Rabu  26 Juni 2025

Ribuan pasang mata tertuju pada arena lapangan upacara Sekretariat Daerah Kabupaten Tasikmalaya. Suara sorak sorai berpadu dengan derap kaki domba yang memasuki arena. Bukan sekadar tontonan biasa, inilah Pestok Pesta Patok Domba dan Kambing, tradisi rakyat yang tetap berdiri tegak di tengah arus modernisasi.

Pestok tahun ini digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Milangkala Kabupaten Tasikmalaya ke-393 dan Hari Bhayangkara ke-79. Tradisi ini menjadi simbol nyata bagaimana masyarakat Tasikmalaya menjaga warisan leluhur sambil terus melangkah maju.


Kehadiran Beragam Elemen, Bersatu dalam Budaya

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur penting yang mewakili institusi pemerintahan, keamanan, hingga elemen masyarakat. Hadir secara kolektif dari tingkat kabupaten hingga kecamatan, mulai dari unsur pemerintahan daerah, TNI-Polri, lembaga legislatif, unsur penegakan hukum, tokoh peternakan lokal, serta berbagai komunitas pecinta domba.

Tanpa ada tokoh yang ditonjolkan, kehadiran mereka semua menjadi simbol kesetaraan dalam merayakan budaya dimana pejabat, petani, santri, hingga anak-anak sekolah berdiri sejajar di sisi arena, menjadi bagian dari perayaan yang menghidupkan.


Domba dan Kambing, Lebih dari Sekadar Ternak

Dalam perhelatan ini, domba dan kambing tampil sebagai “atlet budaya” yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan: bahwa kemandirian masyarakat bisa dibangun dari apa yang diwariskan. Pestok mengajarkan nilai perawatan, ketelatenan, serta kecintaan pada tradisi.

Setiap patokan bukan hanya soal adu kekuatan, tapi juga ketajaman strategi, kedekatan emosional antara manusia dan hewan peliharaannya, serta kebanggaan terhadap hasil ternak sendiri. Di sinilah budaya dan ekonomi saling bertautan.


Ruang Belajar yang Menghibur

Pestok tidak hanya menyuguhkan tontonan, tetapi juga memberi ruang edukasi. Bagi generasi muda, kegiatan ini memperkenalkan pentingnya peran peternakan tradisional. Bagi peternak, ini menjadi ajang pembuktian dan apresiasi. Bagi masyarakat umum, ini menjadi sarana melepas penat sambil merekatkan kebersamaan.

Lebih dari itu, Pestok juga memperlihatkan bahwa kegiatan lokal bisa dikemas sebagai destinasi budaya yang menarik dan berkarakter, memperkuat identitas daerah tanpa meninggalkan nilai-nilai modern.


Tasikmalaya: Daerah yang Tumbuh Tanpa Lupa Akar

Di usia ke-393, Tasikmalaya memberi pelajaran penting: bahwa perkembangan tidak harus menjauh dari budaya. Pestok adalah contohnya. Di tengah gegap gempita zaman digital, tradisi lokal masih punya tempat tidak hanya di panggung kecil, tapi di hati masyarakat yang menyambutnya dengan gembira.

Pestok 2025 bukan sekadar peristiwa, melainkan napas hidup masyarakat. Di sinilah tradisi bukan untuk dikenang, melainkan untuk dijalani bersama dengan semangat yang setara, berbudaya, dan penuh cinta pada tanah sendiri.


Pawai Ta’aruf Manonjaya: Ketika 1 Muharam Menjadi Panggung Hijrah Kolektif dan Wajah Harmoni Tasikmalaya

Pawai Ta’aruf 1 Muharam
Kemeriahan Pawai Ta’aruf Tahun Baru Islam 


Manonjaya, Kamis 26 Juni 2025

Saat matahari baru saja menapak langit timur, Alun-Alun Manonjaya bukan lagi sekadar ruang terbuka hijau. Ia menjelma menjadi ladang spiritual. Hari itu, Kamis pagi yang hangat, ribuan langkah berpadu dalam satu irama: menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 H.

Lebih dari tiga ribu jiwa santri, pelajar, para kiai, pimpinan pondok, ibu-ibu majelis taklim, aparat, hingga tokoh masyarakat turut serta dalam Pawai Ta’aruf. Ini bukan sekadar pawai. Ini adalah deklarasi bersama: bahwa hijrah bukan hanya kenangan sejarah, tetapi gerak nyata menuju nilai-nilai kebaikan hari ini.


Bukan Sekadar Barisan, Ini Iring-Iringan Spirit

Dengan rute yang menghubungkan Alun-Alun Manonjaya hingga Pondok Pesantren Miftahul Huda di Desa Kalimanggis, lautan manusia berjalan penuh takzim. Di tangan mereka berkibar bendera bertuliskan kalimat thayyibah, di bibir mereka mengalun sholawat, dan di hati mereka terpatri semangat hijrah: dari gelap menuju cahaya, dari ego menuju harmoni.

Di tengah barisan, hadir figur-figur penjaga ruang sosial Manonjaya. Camat, Danramil, Kapolsek, Ketua DMI, Ketua DKM, Majelis NU, Kepala Desa Kalimanggis, para pimpinan ponpes, serta dewan kiai Pesantren Miftahul Huda, berjalan berdampingan. Tak ada sekat jabatan, hanya ada satu panggilan: ukhuwah.


Danramil Bicara Cinta Tanah Air dan Tradisi

Danramil 1208/Manonjaya, yang turut menyusuri barisan bersama masyarakat, menyampaikan pesan yang menukik namun menghangatkan:

“Ini bukan sekadar tradisi yang berulang setiap tahun. Ini adalah perwujudan Islam yang damai, yang mencerahkan, dan mencintai tanah air. Pawai ini menjadi ruang terbuka untuk menyatukan umat, menyambungkan instansi, dan menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kita semua bagian dari perjalanan hijrah itu sendiri.”


Keamanan Adalah Kolaborasi, Bukan Instruksi

Pawai Ta’aruf tahun ini berlangsung aman dan tertib, bukan karena instruksi, tetapi karena sinergi: antara TNI-Polri, pemerintah kecamatan, panitia lokal, relawan, dan masyarakat. Semua berjalan dalam skenario yang tertulis rapi: gotong royong.

Tidak ada keributan, tidak ada kerusuhan, hanya suara sholawat, tawa anak-anak, dan aura religius yang terasa hidup di sepanjang jalan.


Tahun Baru Islam Bukan Hanya Kalender Baru

Lebih dari seremoni, 1 Muharam di Manonjaya hadir sebagai refleksi publik. Tentang pentingnya berhijrah, bukan hanya secara spiritual, tapi juga sosial. Menjadi masyarakat yang lebih sadar, lebih peduli, dan lebih solid.

Pawai yang berakhir di lingkungan Pesantren Miftahul Huda bukan berarti perjalanan selesai. Justru di situlah dimulai: saat pendidikan, keagamaan, dan budaya bersatu menjadi fondasi hidup bermasyarakat.

Manonjaya hari itu tak hanya mengarak manusia, tapi juga mengarak harapan: bahwa masa depan yang religius, inklusif, dan penuh toleransi adalah sesuatu yang bisa diraih asal semua mau berjalan bersama.


Sabtu, 21 Juni 2025

PAKSI DPD Tasikmalaya Resmi Dikukuhkan: Ketika Hukum, Budaya, dan Kemandirian Bertemu dalam Satu Ruang

PAKSI DPD Tasikmalaya
Paguyuban Advokat Sunda Indonesia (PAKSI) DPD Tasikmalaya.


Sabtu sore di Tasikmalaya bukan hanya tentang angin sejuk atau lalu lintas santai menuju malam. Tanggal 21 Juni 2025 menjadi saksi, saat sekumpulan pemikir hukum dan penjaga nilai-nilai Sunda berkumpul, bukan untuk berdebat, tapi untuk satu tujuan: mengukuhkan tekad bersama melalui Paguyuban Advokat Sunda Indonesia (PAKSI) DPD Tasikmalaya.

Bertempat di Kota Tasikmalaya, pengukuhan kepengurusan PAKSI periode 2025–2030 berlangsung dalam suasana khidmat, hangat, dan penuh simbol. Prosesi bukan sekadar seremonial, melainkan refleksi bahwa hukum bisa berjalan beriringan dengan akar budaya.

Acara dimulai tepat pukul 16.00 WIB. Tak ada panggung mewah, tapi yang hadir adalah orang-orang dengan visi besar. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan, diikuti penayangan profil DPP PAKSI yang seolah menjadi cermin tentang bagaimana hukum bisa membumi di tanah Sunda.

Ketua Pelaksana, Agung Firdaus, S.H., membuka lembaran pertemuan dengan semangat. “PAKSI bukan hanya tempat berkumpul para advokat. Ini rumah pemikiran, tempat nilai Sunda dilestarikan dalam bingkai konstitusi,” ungkapnya, lugas.

Sambutan pun hadir dari Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Kota Tasikmalaya, Maman Rohman Setiadi, mewakili Wali Kota. Dalam narasi yang tenang tapi berisi, ia menyampaikan apresiasi kepada PAKSI yang membawa aroma segar dalam dinamika hukum lokal.

Lalu hadir sosok Zaideni Herdiasin, S.H., Ketua Harian DPP PAKSI Jawa Barat. Tak seperti pidato formal kebanyakan, ia bicara seperti berbagi cerita tentang idealisme, keberpihakan, dan pentingnya menjaga hukum tetap manusiawi. “Hukum tak selalu kaku. Ia bisa hangat, ketika dipadukan dengan nilai-nilai budaya yang telah hidup jauh sebelum kitab undang-undang lahir,” ujarnya.

Prosesi pengukuhan berjalan sederhana namun sarat makna. Asep Heri Kusmayadi resmi memimpin PAKSI DPD Tasikmalaya Raya untuk lima tahun ke depan. Di tangannya, para advokat diharapkan bukan hanya menjadi pembela hukum, tapi juga penjaga etika lokal.


Yang Hadir Bukan Sembarang Nama

Barisan tamu undangan yang hadir menambah bobot acara. Di antaranya:

• Letda Inf. Mahpudin, S.M., mewakili Dandim 0612/Tasikmalaya

• Letda Sus Welly Gita Pratama dari Lanud Wiriadinata

• Boli Rahmany, Sekretaris Umum DPP PAKSI

• H. Encep Nur Jamal, S.H., M.H., Bendahara DPC PERADI Tasikmalaya

• Paus Kamaludin dari Dewan Pengawas DPP

• Seluruh jajaran pengurus dan anggota PAKSI DPD Tasikmalaya Raya periode 2025–2030

Acara ditutup tanpa hingar-bingar. Tidak ada lampu sorot yang menyilaukan, hanya semangat yang menyala. PAKSI DPD Tasikmalaya kini telah berdiri, bukan sebagai simbol kosong, tapi sebagai perwujudan bahwa hukum bisa tetap setia pada kearifan lokal.

Dan sore itu, Tasikmalaya sekali lagi membuktikan: ketika advokat berbicara dalam bahasa rakyat, hukum tidak lagi terasa jauh.


DI ANTARA NAMA-NAMA YANG TAK LAGI BERSUARA, PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA CABANG XXIII KODIM 0612/TASIKMALAYA MENITIPKAN DOA DI TMP KAROENG

Tabur Bunga Di Salahsatu Makam Pahlawan Karoeng Kota Tasikmalaya  Tasikmalaya — Pagi itu tidak sekadar dingin. Ia membawa sunyi yang berbeda...